| 13 May 2020 (5 years ago) | Dhamma | 3213 Viewers |
Kelahiran sebagai manusia yang memiliki badan raga dengan kesadaran pikirannya adalah keberuntungan, manusia mempunyai kesadaran yang lebih lengkap dari binatang, kelompok kehidupan manusia terdiri dari badan jasmani, perasaan, pikiran, kemauan dan kesadaran duniawi yang dikenal panca khanda.
Kelima kelompok kehidupan ini berkondisi dan tidak kekal adanya atau anatta,tanpa “Aku” yang kekal kelahiran manusia ditandai dengan kesadaran kelahiran patisandhi vijnana dan kematiannya dengan berpisahnya jasmani dengan alaya-vijnana (kesadaran setelah kematian). Orang beranggapan bahwa setelah manusia meninggal segalanya akan berakhir, lantas manusia dengan mudahnya melaksanakan akusala karma (perbuatan tidak baik). Mereka yang berbuat kejahatan tidak menyadari kejahatannya, seperti Sabda Buddha berikut : “Sering terjadi seorang yang berbuat jahat, menerima nikmat kesenangan, selama perbuatan jahat yang telah dilakukannya belum berbuah. Tetapi bilamana nanti buah dari perbuatan jahatnya telah masak, maka ia akan menerima akibatnya”(Dhammapada ;119). Demikian pula kita tidak boleh meremehkan kejahatan atau kebajikan. “Janganlah meremehkan kebajikan dengan mengatakan bahwa kebajikan yang kulakukan hanya sedikit, tak akan membawa pahala bagiku, tetapi sebenarnya, ibarat air yang jatuh setetes demi setetes akhirnya dapat memenuhi sebuah gentong. Demikianlah halnya orang yang bijaksana mengisi dirinya sedikit demi sedikit dengan kebajikan (Dhammapada; 122)
Pada masa kehidupan Buddha terdapat seorang bijaksana, dengan mendengarkan Dharmadesana (wejangan Dharma) Sang Buddha tentang kebajikan dari berdana, ia lalu menganjurkan kepada semua orang desa untuk memberi dana kepada Buddha dan muridnya. Suatu saat ia berkunjung kepada seorang kaya untuk ikut memberikan amal, namun orang kaya tersebut salah paham pada si Bijaksana tadi, maka ia hanya memberikan sedikit dana saja, setelah selesai pengumpulan dana, diadakan acara untuk mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang, semua nama-nama penyumbang akan diumumkan, mendengar hal itu orang kaya tersebut ketempat acara dengan maksud untuk mencelakai si bijaksana tadi, karena ia takut malu dengan sumbangannya yang sedikit, ia pun merasa malu karena tidak mendengar si bijaksana tadi merendahkan namanya, bahkan si bijaksana mengucapkan terima kasih untuk semua dan memberikan penghargaan untuk setiap penyumbang dengan sama rata, serta memohon berkah dan pahala untuk semua amalnya. Mendengar hal ini Buddha menasihatkan tentang nilai dari amal (dana) walaupun sedikit tetapi juga sangat berharga seperti sabda diatas.
Kadang kala kita melakukan amal dengan maksud mencari nama (popularitas) bahkan ada yang tidak mau beramal karena namanya tidak ditulis atau tidak disebutkan terus menerus. Kesadaran melaksanakan amal yang benar adalah prinsip wu wei, wu wo dan wu xin artinya tidak ada pamrih atau mengharapkan balasan, tanpa keegoisan (keakuan) dan tanpa kemelekatan apapun. Inilah amal tertinggi.
Pernah kita dengar dari umat awam yang mengatakan bahwa di salah satu Vihara mengapa dalam memberikan sumbangan(dana) tidak boleh diberitahukan kepada orang lain, dan kita tidak perlu berkomentar banyak dengan pandangan awam tersebut, karena ia dari keluarga yang kaya sekalipun namun kesadaran beramal dan perbuatan kasihnya sangat kurang alias kikir, mereka berbuat amal atau kebaikan selalu mengharapkan nama, pujian atau penghargaan dari orang lain, ia lupa bahwa dalam perbuatan amal harus dengan hati kasih, kasih sayang dan ketulusan jiwa.
Segala perbuatan amal kebajikan, perilaku dana paramita , baik untuk tujuan sosial seperti membantu warga prasejahtera terkena wabah COVID-19 saat ini atau anak yatim piatu, orang tua jompo, peduli sosial membantu korban bencana alam dan sebagainya , juga amal untuk keagamaan seperti membantu pembangunan vihara/cetya, mencetak kitab suci, semuanya bernilai tinggi dan akan memberikan pahala keberuntungan untuk sekarang dan akan datang, nilai tersebut bukanlah datang dari manusia, tapi dari akibat kerjanya hukum Moral Kebajikan dan Kebenaran. Setiap perbuatan baik akan mendatangkan kebajikan dan segala kejahatan akan mendatangkan keburukan bagi sipembuatnya.
Peningkatan kesadaran seseorang dalam hidup ini sangat diperlukan, orang semakin sadar dalam hidup ini ia akan semakin meningkatkan spiritual kebajikannya, sedangkan ia yang tidak dalam kesadaran selalu merasakan hidup ini penuh penderitaan dan malapetaka. Buddha bersabda :”Walaupun seorang hidup seratus tahun tapi tidak dapat melihat dan menyadari adanya sesuatu yang bebas dari kematian, sebenarnyalah lebih baik hidup sehari tapi dapat melihat dan menyadari adanya sesuatu yang bebas dari kematian:. Dengan kesadaran ini semoga hidup kita lebih memberikan manfaat, jiwa dan raga berbuat kasih kebajikan untuk diri dan orang lain.
Semoga sukses selalu dengan keberuntungan yang tak berkesudahan. Svaha….
Sonika, dosen tetap STAB Maitreyawira.
|
*)artikel Refleksi Diri Kebaikan Dan Kebahagiaan: Makna Penerimaan Diri31 January 2026 (1 month ago)
|
|
In Memoriam(1) Mengenang Mp.prajnasutta Penyampai “kebenaran Suara Nurani” Umat Manusia20 July 2024 (1 year ago)
|
|
Kesadaran Keberagaman Jalan Hidup Luhur, Harmonis, Dan Bahagia*) - Bagian 315 May 2024 (1 year ago)
|
|
Kesadaran Keberagaman Jalan Hidup Luhur, Harmonis, Dan Bahagia*) - Bagian 213 May 2024 (1 year ago)
|
|
Kesadaran Keberagaman Jalan Hidup Luhur, Harmonis, Dan Bahagia*) - Bagian 111 May 2024 (1 year ago)
|
|
Dunia Satu Keluarga - Oleh Rida Jelita04 December 2023 (2 years ago) SEMANGAT DUNIA SATU KELUARGA OLEH : RIDA JELITA Berbicara Dunia S... |
|
Ulambana; Tradisi Ritual Cit Gwee Pua (kisah Bhiksu Mogallana Menolong Ibunya)29 August 2023 (2 years ago)
|
|
Pahlawan Eco Enzyme Adalah Guru Dhamma “dapur Yang Baik, Bukan Dapur Yang Beracun”.21 July 2023 (2 years ago)
|
|
|
Memaknai Tahun Baru Lunar Kalender “imlek” *)25 January 2022 (4 years ago) Makna Perayaan Budaya Tionghoa Dalam sejarah Tionghoa dunia... |
|
Refleksi Kesadaran Nurani : Kesadaran Bersama Membangkitkan Semangat Kehidupan25 September 2021 (4 years ago)
|
|
Dengan Kearifan Dan Kasih Menghadapi Pandemi Covid-19 (2)16 July 2021 (4 years ago) DENGAN KEARIFAN DAN KASIH MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (2) Melaksana... |
|
Dengan Kearifan Dan Kasih Menghadapi Pandemi Covid-19 (1)16 July 2021 (4 years ago) DENGAN KEARIFAN DAN KASIH MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (1) Kehidupan m... |
|
Sebuah Refleksi*) Belajar Dengan Langit-bumi Dan Keteladanan Orang Suci21 April 2021 (4 years ago) Dengan melihat Langit-Bumi kita bisa menjiwai Maha Kasih dan Maha Inda... |
|
Lima Elemen,lima Budi, Dan Lima Sila Dalam Kehidupan Manusia21 May 2020 (5 years ago) “Lima elemen,Lima Budi ,dan Lima Sila yang bisa di pahami oleh o... |
|
Renungan Dan Doa Waisak 2564/202007 May 2020 (5 years ago) Namo Sakyamuni Buddhaya Namo Maitreya Buddhaya Salam Kasih dan Keind... |
|
Refleksi Waisak 2564/202006 May 2020 (5 years ago) Penulis : Sonika, S.E.,S.Ag.,M.Pd., Dosen Tetap STAB Maitreyawira dan ... |
|
Berkah Waisaka30 May 2019 (6 years ago) Setiap tahun umat Buddha memperingati Tri Suci Waisak dengan penuh hik... |
|
Bencana Tak Berpintu29 September 2018 (7 years ago) Ibu Pertiwi Berduka, Indonesia benar-benar berduka dengan datangnya be... |
|
Dhammaniyama Sebagai Fenomena Alam “cosmical Body Of The Lord”29 September 2018 (7 years ago) Kita pernah menyaksikan Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016... |
|
Dharma Bagai Cermin Hidup20 September 2018 (7 years ago) “Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-s... |