MEMAKNAI TAHUN BARU LUNAR KALENDER “IMLEK” *)


25 January 2022 (8 months ago) Dhamma 539 Viewers


  • Makna Perayaan Budaya Tionghoa 

Dalam sejarah Tionghoa dunia kebudayaannya sudah ada sekitar 5000 tahun lalu, termasuk perayaan tahun baru lunar kalender menurut Derk Bodde (1975) Perayaan Tahun Baru Lunar sebagai kebudayaan yang unik  sejak kerajaan Dinasti Tiongkok pertama, yang menetapkan penanggalan Lunar ini dulunya dikenal dengan He Lek, yaitu penanggalan Dinasti Xia (2100-1600 SM)  yang memperkenalkan sistem  penanggalan berdasarkan  matahari dan bulan, maka pertukaran lunar kalender Tionghoa akan jatuh pada musim Semi.     

Tiap tanggal 1 bulan 1 Lunar atau Zheng Yue Chu Yi(Tahun ini jatuh pada 1 Februari 2022),   tanda dimulainya perhitungan Tahun Baru Lunar “Imlek”(dari kata ImYangLe) atau Yin Li  dan dalam 12 Shio (Chinese Horoscopes )telah menjadi budaya suku Tionghoa yang menetapkan Tahun Imlek dengan 12 jenis binatang yaitu  tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Setiap tahun terjadi perputaran dari 12 shio tersebut dengan 5 elemen, logam(mas), kayu, air, api, dan tanah. Di Tiongkok lunar kalender ini disebut  juga Nong Li Xin Nian artinya perhitungan penanggalan petani), karena perayaan tahun baru lunar kalender ini muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani untuk memulai tanam dan perhitungan musim, peredaran matahari, bulan dan iklim. Pertukaran Tahun Baru lunar sebagai dasar kebudayaan Tionghoa yang memberi makna semangat, harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Pertukaran Tahun Baru Lunar bagi masyarakat Tionghoa dunia sangat penting sebagai momen untuk meningkatkan kualitas dan peradaban kehidupan secara material, sosial, psikologi, dan refleksi spiritual. Perayaan terjadi ketika manusia hidup bersama dalam satu kelompok masyarakat dan menerima kebiasaan tertentu melalui kegiatan acara rakyat. Menurut Goh Pei Ki (2002) perayaan merupakan gambaran kebudayaan yang kompleks menyatukan mitos, kepercayaan, kehendak psikologis, dan kebiasaan masyarakat. Untuk memahami kebudayaan suatu bangsa, kita harus mempelajari perayaan-perayaan yang biasa mereka lakukan.

Perayaan tradisional Tionghoa sangat bervariasi dan penuh warna, yang dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pertama perayaan menurut musim( ada empat musim perayaan dalam tradisi Tionghoa, musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin). Kedua menurut sejarah atau mitos dan ketiga menurut agama. Perayaan tradisional Tionghoa juga berawal dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh dinasti di Tiongkok yang dipengaruhi oleh tiga ajaran, yaitu Khonghucu, Tao, dan Buddha yang lebih dikenal tiga kepercayaan di Tiongkok.

  • Makna Secara Spiritual dan Psikologis.

Momen pergantian tahun baru Imlek ini secara spiritual dan psikologis, masyarakat Tionghoa yang merayakannya selalu dimulai dengan berbagai ritual atau sembahyang seperti Sembahyang Dewa Dapur, satu minggu sebelum hari H, dengan pembersihan rumah dan semua peralatan, mempersiapkan kebersihan jiwa dan raga untuk menyambut nuansa kebahagiaan  yang serba baru dengan spirit baru. Musik dan lantunan lagu tahunan seperti Guo Xin Nian atau Da Ti Hui Chun mulai didengarkan dimana-mana, menjadi lebih meriah. Pada kegiatan Chu yi, hari pertama disambut dengan  bersyukur puja-bakti (sembahyang), berdoa kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Para Buddha, Para Bodhisatva, dan Dewa-Dewi.

Kemudian bersilaturahmi kepada orang tua(sujud kepada orang tua yang sudah meninggal) sebagai sikap bakti seorang anak. Saling berkunjung antar saudara dan teman, secara spiritual semakin meningkatkan keyakinan/keimanan, kesusilaan, kemurahan hati dan kebijaksanaan, sikap tahu bersyukur ini akan meningkatkan kualitas, berkah hidup seseorang dan penuh sukacita, optimis menuju hidup yang lebih maju, damai dan sejahtera. 

Tradisi menyambut Imlek ini secara psikologis akan dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa, tanpa perbedaan agama, kepercayaan atau keyakinannya, baik di Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Singapore, Malaysia, Thailand, termasuk Indonesia dan negara lainnya yang berkomunitas Tionghoa (Hua Ren) Khusus agama Buddha Mazhab Mahayana juga merayakan tanggal 1 bulan 1 Imlek (zheng yue chu yi) sebagai hari Kelahiran Buddha Maitreya (Mi Le Fo) yang dikenal sebagai Buddha Cinta Kasih.  

  • Makna Sosial Kemasyarakatan

Makna pertukaran tahun (Lunar New Year) sebagai semangat memperbaiki diri, meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial sebagai wujud kasih, kekeluargaan serta  kebersamaan.  Saat ini belahan dunia dan Indonesia dalam kondisi pandemi Covid-19, darurat bencana banjir di beberapa daerah, longsor, gunung meletus, agar ditingkatkan peduli sosial dan merayakan pertukaran tahun dengan sederhana, tetap menjaga protokol kesehatan, semakin membangun peduli sosial, membantu bagi yang membutuhkan uluran tangan, karena kesulitan ekonomi. Suku Tionghoa sebagai warga negara suku Bangsa Indonesia, sekarang sudah waktunya dengan seluruh komponen bangsa untuk bersama bersatu mengatasi berbagai krisis yang sedang melanda negeri ini apalagi dengan dampak Pandemi Covid-19 ini, tanpa melihat asal-usul, ras dan golongan, kita sadar bahwa Ibu pertiwi sedang mengalami kesusahan.  Buddha dan Bodhisatva mengatakan dengan cinta kasih kita kembangkan untuk semua makhluk dan manusia, kita adalah bersaudara Semesta. Dunia Satu Keluarga. Karena Tuhan Yang Maha Esa tiada pernah membedakan semua makhluk dan manusia dalam memberikan kehidupan. tidak ada seorangpun yang diistimewakan dan tidak ada suatu kaum yang ditinggikan di atas yang lainnya.

Kita menyambut baik dan gembira, sebagian organisasi masyarakat Tionghoa dalam rangka pertukaran Tahun ini(Imlek) terus meningkatkan peduli sosial dengan membagi sembako, kebutuhan materi, dan berbagai keperluan kepada keluarga kurang mampu yang sedang membutuhkan. Lihatlah sekeliling kita masih banyak orang yang sedang kesusahan, maka kita di hari bahagia, pedulilah dengan tidak  melupakan mereka saudara kita.

Kita semakin bersyukur(gan en) dan menjaga suasana damai, aman, dan harmonis bersama, rukun bersama, dan gembira bersama. Dengan segala kemampuan yang berbeda, bukan lagi membicarakan perbedaan yang ada, kesalahan masa lalu dapat dijadikan cerminan perbaikan masa depan untuk kemajuan, semua perbedaan etnik, ras, adat istiadat, bahasa, budaya,  haruslah kita hargai dan hormati bersama. 

  • Makna Ganda Gong Xi Fa Cai (Segala kebaikan dan kesuksesan datang bersamaan)

Kehidupan yang bermakna selalu memberi kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain, Perayaan pertukaran tahun lunar (Imlek) secara material yang dipersiapkan untuk mengiringi kegembiraan batin diri sendiri, keluarga, dan  masyarakat. Budaya ini berkembang dengan simbol-simbol perayaan Imlek seperti yang dilaksanakan keluarga dalam budaya makan bersama (tuan yuan fan) pada malam menjelang Tahun Baru, seluruh anggota keluarga  berkumpul dengan bersukacita agar terpelihara tali kasih, persaudaraan, dan kebersamaan keluarga. Saling mengucapkan “Gong Xi Fa Cai” sebagai simbol keselamatan, berbagi kebahagiaan dan bersukacita atau sukses  sebagai kebahagiaan ganda, double happiness.

Marilah kita bersama-sama mendoakan dan memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, dan Bodhisatva agar negara kita Indonesia terbebas dari berbagai bencana dan malapeta, dijauhi dari Pandemi Covid-19. Semoga kebajikan mendekat dan bencana menjauh, inilah harapan dan doa bersama.

 

Selamat Tahun Baru Lunar Kalender “Imlek” Tahun 2022. Semoga damai dan harmonis selalu. Gong Xi Fa Cai, Wan Shi Ru Yi.

 

Referensi :

Derk Bodde. 1975.  Festivals in Classical China_ New Year and Other Annual Observances During the Han Dynasty, 206 B.C.-A.D. 220. USA: Princeton  University Press.

Goh Pei Ki. 2002. Origins of Chinese Festivals. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Marcus A.S.2003. Hari-hari Raya Tionghoa. Jakarta: Marwin.

Sonika, dkk.2011. Mengenal Budaya Tionghoa. Pekanbaru: PSMTI Riau.

 

*) Sonika, Dosen STAB Maitreyawira dan Universitas Riau Pekanbaru.

Dhamma Lainnya

...

Makna Budaya Kue Bulan (mooncake Mid-autumn Festival)

09 September 2022 (2 weeks ago)

...

Waisak, Hari Pencerahan

14 May 2022 (4 months ago)

...

Refleksi Kepada Orang Tua Berbakti Yang Termulia

23 October 2021 (11 months ago)

...

Refleksi Kesadaran Nurani : Kesadaran Bersama Membangkitkan Semangat Kehidupan

25 September 2021 (1 year ago)

...

Makna Berbagi Dan Peduli Kasih(4)

11 September 2021 (1 year ago)

...

Tuntunan Hidup Berlandaskan Kasih(3)

11 September 2021 (1 year ago)

...

Keindahan Cinta Kasih Yang Tak Berkesudahan(2)

10 September 2021 (1 year ago)

 

...

Kasih Menyelamatkan Dunia(1)

10 September 2021 (1 year ago)

                &nb...

...

Dengan Kearifan Dan Kasih Menghadapi Pandemi Covid-19 (2)

16 July 2021 (1 year ago)

DENGAN KEARIFAN DAN KASIH MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (2) Melaksana...

...

Dengan Kearifan Dan Kasih Menghadapi Pandemi Covid-19 (1)

16 July 2021 (1 year ago)

DENGAN KEARIFAN DAN KASIH MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (1) Kehidupan m...

...

Refleksi*) "membangun Kasih Dan Integritas" | Berkah Kue Chang (zong Zi)

14 June 2021 (1 year ago)

...

Menghormati Buddha Bukan Patung (arca)nya

22 May 2021 (1 year ago)

 

...

Refleksi*) “mengejar Waktu Memburu Kebenaran (dharma)”

30 April 2021 (1 year ago)

...

Sebuah Refleksi*) Belajar Dengan Langit-bumi Dan Keteladanan Orang Suci

21 April 2021 (1 year ago)

Dengan melihat Langit-Bumi kita bisa menjiwai Maha Kasih dan Maha Inda...

...

Sebuah Refleksi*) Belajar Mengosongkan Diri

31 March 2021 (1 year ago)

           Belajar m...

...

Lima Elemen,lima Budi, Dan Lima Sila Dalam Kehidupan Manusia

21 May 2020 (2 years ago)

“Lima elemen,Lima Budi ,dan Lima Sila yang bisa di pahami oleh o...

...

Tingkatkan Hidup Penuh Kesadaran

13 May 2020 (2 years ago)

           Kelahiran...

...

Renungan Dan Doa Waisak 2564/2020

07 May 2020 (2 years ago)

Namo Sakyamuni Buddhaya Namo Maitreya Buddhaya Salam Kasih dan Keind...

...

Refleksi Waisak 2564/2020

06 May 2020 (2 years ago)

Penulis : Sonika, S.E.,S.Ag.,M.Pd., Dosen Tetap STAB Maitreyawira dan ...

...

Berkah Waisaka

30 May 2019 (3 years ago)

Setiap tahun umat Buddha memperingati Tri Suci Waisak dengan penuh hik...

...

Bencana Tak Berpintu

29 September 2018 (3 years ago)

Ibu Pertiwi Berduka, Indonesia benar-benar berduka dengan datangnya be...

...

Dhammaniyama Sebagai Fenomena Alam “cosmical Body Of The Lord”

29 September 2018 (3 years ago)

Kita pernah menyaksikan Gerhana Matahari Total  pada 9 Maret 2016...

...

Dharma Bagai Cermin Hidup

20 September 2018 (4 years ago)

“Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-s...

...

Apa Tri Pitaka?

20 September 2018 (4 years ago)

Pada suatu pertemuan bersama umat Buddha awam, dalam perbincangan sing...

...

Pemahaman Buddha Dharma

20 September 2018 (4 years ago)

            Per...

...

Pentingnya Hidup Dalam Kasih

11 September 2018 (4 years ago)

            Bag...

...

Kasih Alam, Sang Pemberi Tanpa Pamrih (refleksi Pada Linkungan Global)

11 September 2018 (4 years ago)

       Sudah menjadi kewajiban kita bersama dan ta...